Departemen Pertahanan AS Yakin Indonesia Segera Dapat J-10 Varian Tercanggih

Dephan AS tentang penjualan J-10 China ke Indonesia (foto : eng.mod.gov.cn)


TIMEMOMENTS.COM - Indonesia sudah menyatakan minatnya pada jet tempur buatan Chengdu Aircraft Corporation (CAC) China, J-10.

Bahkan menurut pemberitaan beberapa waktu lalu jumlah pembelian jet tempur tersebut mencapai sekiranya 40 unit lebih.

Angka di atas bukan bilangan pasti, bisa bertambah atau berkurang.

Pasalnya CAC sendiri sudah tak memproduksi Vigorous Dragon untuk PLAAF China.

Fasilitas produksi J-10 dipindah ke Guizhou Aircraft Corporation sejak 2024 untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

Baca Juga : Indonesia Baru Mau Beli Tapi China Berencana Hentikan Produksi J-10 Fokus Membuat J-20

Menurut informasi di dunia maya, PLAAF mengoperasikan hampir 500 lebih J-10 berbagai varian.

Boleh dibilang jet ini menjadi tulang punggung kekuatan udaranya dibanding yang lain.

Sementara itu pengguna luar negeri satu-satunya ialah Pakistan.

Sampai detik ini CAC masih berusaha menjual lebih banyak lagi ke luar negeri.

Harapannya fasilitas produksi di Guizhou bekerja optimal menarik tenaga kerja.

Pemerintah China juga mempromosikan secara intens disertai berbagai diskon dan kemudahan pembelian.

Yang tentunya menarik hati calon pembeli ialah tak adanya syarat 'neko-neko' seperti HAM layaknya produsen Barat.

Asal ada kesepakatan menguntungkan kedua belah pihak maka penjualan segera dilakukan.

Calon Pelanggan

Indonesia sudah pasti jadi calon pelanggan J-10, namun ada beberapa negara lain yang hendak membelinya.

Pakistan mempunyai 20 J-10CE dan menambah lagi pesanan sebanyak 36 unit.

Kemudian ada Irak, Iran, Uzbekistan, Mesir hingga Bangladesh.

Seperti dijelaskan di awal bahwa kemudahan bertransaksi serta harga alutsista yang terjangkau membuatnya lebih diminati.

Apalagi CAC sudah menjualnya komplit dengan paket pelatihan plus persenjataan yang dijamin anti embargo.

Hal inilah yang membuat Pakistan menambah pesanan.

"Pakistan telah memesan 36 pesawat tempur J-10 dari China dalam dua pesanan terpisah, setidaknya 20 di antaranya telah dikirim," jelas The Print pad 24 Desember 2025.

Menurut Pentagon pengiriman batch tambahan ini sudah dilakukan sejak Mei 2025 sebanyak 20 unit.

Lalu sisanya sebanyak 16 unit tengah menjalani serangkaian pembuatan dan pengiriman.

Padahal Islamabad memesan batch tambahan pada awal 2023, cukup dua tahu bagi CAC memenuhi 20 unit pesanan awal dan sudah dikirim.

Kecepatan produksi inilah juga menjadi promosi utama, tentunya negara konsumen lebih senang pesanannya jadi lebih cepat.

Jatuhkan Rafale

Operasi Sindoor yang dilakukan ke Pakistan beberapa waktu lalu menjadi petaka bagi India.

Operasi ini diluncurkan setelah insiden penyerangan teror di Pahalgam, Kashmir.

Rancangan operasi ini terendus intelijen Pakistan lalu meminta China secara cepat mengirim rudal udara-ke-udara PL-15 dalam jumlah banyak.

Secara rahasia China mengirim rudal ini, membuat J-10 Pakistan siap menghadapi perang.

The Print melaporkan gegara penggunaan PL-15, AU Pakistan bisa menjalankan taktik pertempuran udara NATO yakni menyerang target dari luar jangkauan pandang, Beyond Visual Range (BVR).



"Taktik yang dikenal sebagai Fire and Forget ini melibatkan penggunaan dua pesawat untuk mengendalikan rudal.

Sumber mengatakan bahwa satu pesawat, setelah meluncurkan rudal, bermanuver menjauh untuk menghindari tembakan musuh," jelasnya.

Ketika PL-15 meluncur maka target cuma punya 12 detik untuk bermanuver keluar dari trajektori rudal.

Lebih dari itu dipastikan tamat.

Kurangnya respon, pelatihan serta jam terbang membuat pilot India gelagapan menghadapi taktik ini.

Hasilnya lima buah Rafale India jatuh ditembak PL-15 dari J-10, kekalahan yang memalukan bagi PM Narendra Modi.

Itu masih ada korban selanjutnya yakni MiG-29 (1 unit), Su-30MKI (1 unit) dan Mirage 2000 (1 unit).

Sementara itu AU India sama sekali tak menembak jatuh J-10 atau pun JF-17 Thunder yang digunakan melawan operasi Sindoor.

Gegara ini, Menteri Pertahanan India Rajnath Singh mengambil langkah berani, mengalokasikan dana sebanyak mungkin mempercepat proyek HAL AMCA, sebuah program pesawat tempur generasi kelima untuk menggantikan HAL Tejas.

AMCA diproyeksikan menjadi jet tempur garis depan menggusur peran semua fighter AU India kecuali Rafale.

Teknologi J-10 di J-20

Rupanya J-10 varian paling canggih yakni C mempunyai peran besar dalam pembangunan jet tempur siluman J-20 Mighty Dragon.

CAC fokus pada pembuatan J-20 yang diharapkan bisa tembus 1.000 unit pada 2030.

Pada 2025 saja PLAAF sudah diperkuat 300 unit jet siluman ini, menjadikannya diwaspadai oleh F-35 Barat.

Salah satu teknologi J-10C yang digunakan J-20 ialah radar AESA berjuluk 'Dragon Eye' KLJ-7A yang menggantikan radar jadul Type 1473H pulse-doppler fire control radar yang dipakai di seri A dan B.

Kemudian J-10C bisa menggotong segala jenis rudal dan bom yang dipasangkan di J-20 meski ada versi terbaru yakni PL-16 yang belum bisa terintegrasi dengannya namun cuma masalah waktu.

Diyakini CAC akan terus memperbarui kemampuan J-10C untuk pasaran ekspor.

Mereka sadar jika tak melakukannya maka jalur produksi jet tempur tersebut ditutup.

Saingan J-10 di pasaran dunia cukup ketat, misal F-16, pemerintah AS berani memberikannya cuma-cuma ke negara lain dalam program Foreign Military Sales (FMS).

Indonesia jadi penerima manfaat FMS, 24 unit F-16 gratis cuma membayar biaya upgrade pesawat.

Monitoring Dephan AS

Rupanya U.S. Department of Defense alias Departemen Pertahanan AS (Dephan AS) atau sekarang disebut Departemen Perang AS memonitor penjualan berbagai alutsista buatan China ke negara lain.

Laporan berjudul Annual Report to Congress : Military And Security Developments Involving The People's Republic of China tertanggal Fiscal Years 2024-2025 ini cukup memberi gambaran seperti apa pengaruh penjualan alutsista China ke negara lain.

Laporan dari US Department of Defense

Tentunya sebuah laporan bersifat rahasia namun bisa diakses publik.

Salah satu keterangan yang ada di sana cukup menarik disimak, yakni bagaimana kemampuan AL China, PLAN mengoperasikan kapal induk secara efektif.

Diprediksi kapal induk Fujian jadi yang pertama paling full operasional dibanding kedua kakaknya.

"PLAN kemungkinan bermaksud agar sayap udara Fujian di masa depan mencakup pesawat tempur siluman J-35, jet tempur J-15T, pesawat perang elektronik J-15D, helikopter Z-20, pesawat peringatan dini KJ-600, dan berbagai UAV," jelas laporan tersebut.

Kemudian diprediksi sampai 2035 China segera mengoperasikan enam kapal induk.

Melihat data ini US Navy bisa memilih langkah progresif untuk tetap mengungguli kemampuan PLAN di sisi kapal induk.

Tapi bisa pula sebaliknya kemampuan PLAN di atas mereka bila sampai 2040 tak ada gebrakan berarti dalam modernisasi armada kapal perang US Navy.

Paling menarik perhatian dari laporan ini bahwasanya Indonesia segera mendapatkan J-10C, versi tercanggih dari jet tempur tersebut.

Tapi tak disebutkan berapa jumlah J-10C yang dibeli Indonesia.

Laporan yang menyebut Indonesia beli J-10C berada di Page 65 


Melihat laporan sekomplit ini menjadi cerminan bahwasanya publik AS harus tahu seperti apa ancaman China bagi negara mereka.

Pentagon memang terbuka mengenai potensi ancaman yang datang.

Kerap sekali Kongres AS, Dephan hingga Departemen Luar Negerinya merilis laporan yang cukup mengejutkan.

Misal dalam laporan state.gov berjudul 'Addressing China’s Military Aggression in the Indo-Pacific Region' pada 2017-2021 membeberkan bahwa Partai Komunis China (PKC) memaksakan kehendaknya ke negara lain dengan kekuatan militer.

"Di sebagian besar wilayah Indo-Pasifik, Partai Komunis China (PKC) menggunakan paksaan militer dan ekonomi untuk menindas negara-negara tetangganya, memajukan klaim maritim yang melanggar hukum, mengancam jalur pelayaran maritim, dan menggoyahkan wilayah di sepanjang perbatasan Republik Rakyat China (RRC)

Perilaku predator ini meningkatkan risiko salah perhitungan dan konflik. Amerika Serikat berdiri bersama sekutu dan mitranya di Asia Tenggara untuk memperjuangkan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka," ujar state.gov.

Menurut pemerintah AS, China menggeser posisi Rusia sebagai ancaman nomor satu baginya.

Hal tersebut wajar karena kemajuan teknologi militer negeri Tirai Bambu cukup pesat, masif melebihi kemampuan Rusia berbuat hal serupa.

Rusia diyakini mulai tertinggal satu dua langkah dari China menyoal pengembangan teknologi pertahanan.

Laporan-laporan seperti ini bukan untuk menyulut perang tapi meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan adanya potensi ancaman dari negara asing.

Sehingga ketika pemerintah AS membuat proyek pertahanan bernilai ratusan triliun Rupiah, publik mengerti dan mendukung rencana itu karena sudah diberitahu sebelumnya potensi ancaman bagi kepentingan nasionalnya.

Harapannya pemerintah Indonesia khususnya Kementerian Pertahanan menyusun laporan seperti ini yang bisa diakses publik (tentu dengan beberapa penyuntingan bila dianggap sensitif atau rahasia) sehingga membuka mata masyarakat Indonesia agar melek situasi geopolitik.*

Seto Ajinugroho
Seto Ajinugroho adalah seorang Wartawan yang berkecimpung di dunia Jurnalisme terutama menggeluti tentang informasi perkembangan teknologi pertahanan nasional dan internasional

Posting Komentar untuk "Departemen Pertahanan AS Yakin Indonesia Segera Dapat J-10 Varian Tercanggih"