Kisah Tu-16 Indonesia Hindari Radar Lawan Lalu Menyelinap Masuk Wilayah Udara Australia
![]() |
| Tu-16 AURI (foto : AURI restorasi berwarna oleh Gemini AI) |
Yakni pesawat pembom Tupolev Tu-16 buatan Uni Soviet.
Dengan alutsista ini Indonesia bisa memproyeksikan kekuatan udaranya hingga ke negara lain.
Hal itu bukan sekedar guyonan, kepemilikkan pesawat pembom jarak jauh diamati serius oleh negara lain.
Baca Juga : Xian H-6, Solusi Murah Praktis Aktifkan Skadron Pembom Strategis Jarak Jauh Indonesia
Bahkan AS masih mewaspadai keberadaan Tu-16 hingga tahun 1980 an.
Kekhawatiran ini terbukti saat AS meminta Indonesia mempensiunkan seluruh armada Tu-16 agar mendapat F-86 Sabre dan T-33.
Reinkarnasi Badger
Memang Tupolev Tu-16 Badger sudah dipensiunkan.
Unit terakhir yang masih terbang pada tahun 2000 milik AU Mesir.
Kedigdayaan pesawat ini nyatanya membuat mata People's Liberation Army (PLA) China terpesona.
China tak ingin meniru cara Indonesia dan negara lainnya membeli Tu-16.
Mereka membuat sendiri pesawat ini agar bisa digunakan lebih lama.
Semua dimulai pada tahun 1956 dimana Soviet setuju memberikan lisensi pembuatan Badger.
Kerja sama ini diwujudkan pada September 1957 dimana Moskow mengirim dua pesawat ke China.
Keduanya dikirim dalam bentuk setengah jadi dan belum jadi atau biasa disebut semi-knocked-down.
Lalu pengiriman bahan baku pembuatan pesawat juga dikirim dari Kazan.
Setelah itu tim insinyur Soviet datang ke China guna membantu jalur produksi pertama bomber yang nantinya dinamai Xian H-6 itu pada 1959.
Terhitung hanya perlu waktu 67 hari teknisi China merakit Tu-16 dan diterbangkan.
Sukses merakit dilanjutkan produksi sendiri H-6 dan pada 24 September 1968 unit pertama terbang.
"China telah membangun setidaknya 150 pesawat pembom sejak memulai produksi di pabrik di Xian pada tahun 1990-an, dengan perkiraan saat ini mengoperasikan setidaknya 120 H-6.," jelas simpleflying.com pada 17 Maret 2024.
Adanya H-6 mengisyaratkan kemampuan Tu-16 bila diperbarui masih relevan digunakan sekarang.
Meski patut diakui pula PLAAF dan PLAN kesulitan memproduksi pesawat pembom baru menggantikan H-6.
Sampai detik ini pengembangan pembom siluman H-20 masih entah kapan selesainya.
Pasalnya pemerintah China mesti mereplace sekitar 231 lebih H-6, jumlah yang tak sedikit dan membutuhkan biaya besar.
Menghadapi Persemakmuran Inggris
Segala pesawat bomber Tupolev dan turunannya seperti ditakdirkan melawan negara Sekutu.
Misalnya seperti Tu-160 Blackjack dan Tu-95 Bear Rusia.
Keduanya sangat ditakuti oleh Sekutu terutama negara-negara NATO di Eropa.
Jika salah satu terbang maka radar negara anggota NATO siaga aktif.
Pasalnya saat ini di NATO yang mempunyai pesawat bomber cuma AS.
Inggris sudah mempensiunkan V-Bomber miliknya menjadikan negara-negara Eropa bergantung pada aksi defensif jet tempur interceptor untuk menghadang Tupolev Rusia.
Padahal saat Inggris mempunyai V-Bomber mereka punya taring mengancam balik Rusia.
Bila Tu-95 terbang mengancam Eropa Barat maka London balik menerbangkan Avro Vulcan mendekati wilayah udara Uni Soviet.
Determinasi seperti ini yang tak dimiliki lagi.
Pun dengan Indonesia, mengoperasikan Tu-16 dalam operasi Trikora Dwikora sungguh menegangkan.
Seperti dijelaskan di awal bahwa pesawat ini digunakan dalam konfrontasi melawan Federasi Malaya yang disponsori Inggris.
Saat itu Inggris masih diperkuat V-Bomber, adanya aksi Badger ke negara persemakmuran berpotensi mengundang kedatangan Avro Vulcan, Handley Page Victor dan Vickers Valiant mengeroyok Indonesia.
Tapi Indonesia tak gentar, berbagai misi pengintaian hingga penyusupan dilakukan bukan cuma ke Federasi Malaya namun sampai ke Australia.
Dikumandangkannya Dwikora pada 20 Januari 1963 sebetulnya buat militer Indonesia pusing.
Bayangkan saja usai hiruk pikuk Trikora selesai pada 1962, angkatan bersenjata diperintahkan melancarkan operasi militer melawan Inggris dkk.
Jelas ini lebih berat karena bukan tak mungkin Indonesia mengalami kekalahan.
Pasalnya ada Australia yang bisa menyerang dari sisi Utara, selain itu negeri Kangguru dikenal sebagai pijakan utama kekuatan tempur Sekutu bila situasi di Indo Pasifik memanas.
Posisi Indonesia 'tercekik' sementara bantuan militer yang diharapkan dari Uni Soviet harus melewati pangkalan utama Armada Ketujuh US Navy di Yokosuka dan Okinawa Jepang.
Menyusup ke Australia
Salah satu misi Tu-16 yang cukup membuat Inggris gusar ialah menyusup ke ruang udara Australia.
Hal ini terjadi pada pertengahan tahun 1963 dimana militer Indonesia ingin mengirim pesan tegas bahwa kekuatan tempurnya mampu menjangkau seluruh wilayah Persemakmuran Inggris di Asia Tenggara.
Persiapan awal menyiapkan tiga unit Tu-16 Badger A.
Masing-masing diberi arah tujuan yakni terbang ke Serawak, Sandakan dan Kinabalu.
Unit terakhir terbang ke Alice Springs Australia.
Kali ini loadout pesawat tak diisi bom melainkan berbagai barang mulai dari makanan kaleng, parasut, perangkat komunikasi dan lain sebagainya yang bertuliskan Made In Indonesia.
Barang-barang ini nantinya dijatuhkan ke tempat yang disasar sebagai psywar bahwa kekuatan tempur militer Indonesia bisa menjangkau mereka kapanpun.
"Pesawat ini, yang dipiloti oleh (Komodor Udara) Suwondo, membawa peralatan seperti parasut, perangkat komunikasi, dan makanan kaleng.
Idenya adalah mereka menjatuhkan barang-barang ini di dekat Alice Springs, Australia (tepat di jantung benua), untuk membuktikan bahwa AURI mampu mencapai jantung benua," jelas Majalah Angkasa No.12 September 1999 Tahun IX.
Namun Alice Springs dijaga oleh radar yang bisa memantau seluruh wilayah Asia Pasifik.
Namun misi harus tetap dilakukan dimana Suwondo memerintahkan anak buahnya berkumpul di Markas Wing 003 pukul 11 malam.
Di sana semua awak yang terlibat diberitahu bahwa misi kali ini terbang menyusup ke ruang udara Australia.
"Dia hanya memerintahkan kami untuk berada di Markas Wing 003 pukul 11 malam sambil membawa persediaan air minum," jelas Sjahroemsjah, awak Tu-16 yang ikut dalam misi.
Setelah persiapan selesai, satu Tu-16 terbang pukul 1 malam.
Operasi lintas malam antar benua ini sengaja dilakukan petang hari untuk menghindari sergapan F-86 Sabre RAAF dan rudal udara ke permukaan Bloodhound yang menjaga Australia.
Setelah itu tim insinyur Soviet datang ke China guna membantu jalur produksi pertama bomber yang nantinya dinamai Xian H-6 itu pada 1959.
Terhitung hanya perlu waktu 67 hari teknisi China merakit Tu-16 dan diterbangkan.
Sukses merakit dilanjutkan produksi sendiri H-6 dan pada 24 September 1968 unit pertama terbang.
"China telah membangun setidaknya 150 pesawat pembom sejak memulai produksi di pabrik di Xian pada tahun 1990-an, dengan perkiraan saat ini mengoperasikan setidaknya 120 H-6.," jelas simpleflying.com pada 17 Maret 2024.
Adanya H-6 mengisyaratkan kemampuan Tu-16 bila diperbarui masih relevan digunakan sekarang.
Meski patut diakui pula PLAAF dan PLAN kesulitan memproduksi pesawat pembom baru menggantikan H-6.
Sampai detik ini pengembangan pembom siluman H-20 masih entah kapan selesainya.
Pasalnya pemerintah China mesti mereplace sekitar 231 lebih H-6, jumlah yang tak sedikit dan membutuhkan biaya besar.
Menghadapi Persemakmuran Inggris
Segala pesawat bomber Tupolev dan turunannya seperti ditakdirkan melawan negara Sekutu.
Misalnya seperti Tu-160 Blackjack dan Tu-95 Bear Rusia.
Keduanya sangat ditakuti oleh Sekutu terutama negara-negara NATO di Eropa.
Jika salah satu terbang maka radar negara anggota NATO siaga aktif.
Pasalnya saat ini di NATO yang mempunyai pesawat bomber cuma AS.
Inggris sudah mempensiunkan V-Bomber miliknya menjadikan negara-negara Eropa bergantung pada aksi defensif jet tempur interceptor untuk menghadang Tupolev Rusia.
Padahal saat Inggris mempunyai V-Bomber mereka punya taring mengancam balik Rusia.
Bila Tu-95 terbang mengancam Eropa Barat maka London balik menerbangkan Avro Vulcan mendekati wilayah udara Uni Soviet.
Determinasi seperti ini yang tak dimiliki lagi.
Pun dengan Indonesia, mengoperasikan Tu-16 dalam operasi Trikora Dwikora sungguh menegangkan.
Seperti dijelaskan di awal bahwa pesawat ini digunakan dalam konfrontasi melawan Federasi Malaya yang disponsori Inggris.
Saat itu Inggris masih diperkuat V-Bomber, adanya aksi Badger ke negara persemakmuran berpotensi mengundang kedatangan Avro Vulcan, Handley Page Victor dan Vickers Valiant mengeroyok Indonesia.
Tapi Indonesia tak gentar, berbagai misi pengintaian hingga penyusupan dilakukan bukan cuma ke Federasi Malaya namun sampai ke Australia.
Dikumandangkannya Dwikora pada 20 Januari 1963 sebetulnya buat militer Indonesia pusing.
Bayangkan saja usai hiruk pikuk Trikora selesai pada 1962, angkatan bersenjata diperintahkan melancarkan operasi militer melawan Inggris dkk.
Jelas ini lebih berat karena bukan tak mungkin Indonesia mengalami kekalahan.
Pasalnya ada Australia yang bisa menyerang dari sisi Utara, selain itu negeri Kangguru dikenal sebagai pijakan utama kekuatan tempur Sekutu bila situasi di Indo Pasifik memanas.
Posisi Indonesia 'tercekik' sementara bantuan militer yang diharapkan dari Uni Soviet harus melewati pangkalan utama Armada Ketujuh US Navy di Yokosuka dan Okinawa Jepang.
Menyusup ke Australia
Salah satu misi Tu-16 yang cukup membuat Inggris gusar ialah menyusup ke ruang udara Australia.
Hal ini terjadi pada pertengahan tahun 1963 dimana militer Indonesia ingin mengirim pesan tegas bahwa kekuatan tempurnya mampu menjangkau seluruh wilayah Persemakmuran Inggris di Asia Tenggara.
Persiapan awal menyiapkan tiga unit Tu-16 Badger A.
Masing-masing diberi arah tujuan yakni terbang ke Serawak, Sandakan dan Kinabalu.
Unit terakhir terbang ke Alice Springs Australia.
Kali ini loadout pesawat tak diisi bom melainkan berbagai barang mulai dari makanan kaleng, parasut, perangkat komunikasi dan lain sebagainya yang bertuliskan Made In Indonesia.
Barang-barang ini nantinya dijatuhkan ke tempat yang disasar sebagai psywar bahwa kekuatan tempur militer Indonesia bisa menjangkau mereka kapanpun.
"Pesawat ini, yang dipiloti oleh (Komodor Udara) Suwondo, membawa peralatan seperti parasut, perangkat komunikasi, dan makanan kaleng.
Idenya adalah mereka menjatuhkan barang-barang ini di dekat Alice Springs, Australia (tepat di jantung benua), untuk membuktikan bahwa AURI mampu mencapai jantung benua," jelas Majalah Angkasa No.12 September 1999 Tahun IX.
Namun Alice Springs dijaga oleh radar yang bisa memantau seluruh wilayah Asia Pasifik.
Namun misi harus tetap dilakukan dimana Suwondo memerintahkan anak buahnya berkumpul di Markas Wing 003 pukul 11 malam.
Di sana semua awak yang terlibat diberitahu bahwa misi kali ini terbang menyusup ke ruang udara Australia.
"Dia hanya memerintahkan kami untuk berada di Markas Wing 003 pukul 11 malam sambil membawa persediaan air minum," jelas Sjahroemsjah, awak Tu-16 yang ikut dalam misi.
Setelah persiapan selesai, satu Tu-16 terbang pukul 1 malam.
Operasi lintas malam antar benua ini sengaja dilakukan petang hari untuk menghindari sergapan F-86 Sabre RAAF dan rudal udara ke permukaan Bloodhound yang menjaga Australia.
![]() |
| F-86 Sabre (foto : Air Force Heritage) |
Misi ini sukses dimana Tu-16 menjatuhkan paket ke sana lalu pulang kembali ke Home Base pukul 8 pagi.
"Pada tahun 60-an, orang tidak dapat membayangkan bahwa AURI mampu melakukan penetrasi udara tanpa terdeteksi atau tertangkap oleh pihak bertahan," ungkapnya.
Dipensiunkannya Tu-16 menjadi pertanda bahwa kemampuan serangan jarak jauh militer Indonesia hilang.
Sebetulnya dengan pembelian F-15 Eagle II skadron pembom strategis jarak jauh dengan metode pengisian bahan bakar di udara tentunya.
Atau mencoba negosiasi pembelian H-6 dari China, mereka mengoperasikan lebih dari 200 unit.
Membeli versi terbaru dari H-6 memerlukan dana sekitar Rp 943 miliar per unitnya.
Namun masalahnya persenjataan dari pesawat pembom tersebut terlalu sensitif bila dijual ke pasar luar negeri.
Kecil kemungkinan China mau menjual senjata mematikan dari H-6 ke Indonesia misal rudal DF-26 yang dijuluki penjagal kapal induk.
"Rudal DF-26 dan DF-1D buatan China yang diluncurkan dari darat dan dikenal sebagai pembunuh kapal induk merupakan ancaman serius bagi kapal induk karena memiliki peluncur bergerak, jangkauan, dan sistem pemandu yang mampu mengenai kapal Angkatan Laut yang bergerak dan menghancurkan," jelas warriormaven.com pada 5 November 2025.
Sebetulnya yang berbahaya dari H-6 adalah persenjataan yang digotongnya.
Pesawat ini rentan ditembak jatuh namun bila ia berhasil meluncurkan satu-dua misil yang di bawanya alamat petaka.
Menurut laporan Pentagon, China tengah mengembangkan rudal hipersonik berjangkauan lebih dari 1.000 km.
Bayangkan saja bila H-6 menembakkan rudal tersebut dari Natuna maka bisa menjangkau IKN Nusantara.
US Navy diwanti-wanti agar tak terlalu gegabah mengambil tindakan bila bertemu pesawat ini.
Mereka hanya diperintahkan membayangi pergerakan H-6 seperti saat melintasi laut Jepang.
Sampai saat ini pun untuk mencari alutsista serupa seperti Tu-16 sungguh sulit bagi Indonesia.*


Posting Komentar untuk "Kisah Tu-16 Indonesia Hindari Radar Lawan Lalu Menyelinap Masuk Wilayah Udara Australia"