Xian H-6, Solusi Murah Praktis Aktifkan Skadron Pembom Strategis Jarak Jauh Indonesia

Xian H-6 milik China (foto : Creative Commons)


TIMEMOMENTS.COM - Pada tahun 1960 an sebetulnya angkatan udara Indonesia mempunyai skadron pembom strategis jarak jauh.

Penamaan ini bukan asal karena alutsista yang dipakai memang mampu melakukannya yakni Tupolev Tu-16 buatan Voronezh Aircraft Production Association.

Pembelian pesawat bomber berjuluk Badger ini merupakan strategi Indonesia mensukseskan kampanye militer Trikora.

Dengannya AURI mampu melancarkan serangan jarak jauh ke berbagai wilayah termasuk menjangkau ruang udara Australia.

Baca Juga : Operasi Tempur Berani Mati Tu-16 Indonesia Serang Pangkalan Terkuat Belanda Jika Perundingan Damai Gagal

Indonesia membeli sekitar 26 unit Tu-16 yang dibagi menjadi tiga varian yakni basic, KS-1 dan R.

Rinciannya 12 Tu-16 Basic, 12 KS dan 2 R.

Pengiriman pertama terjadi pada tahun 1961 lalu secara berturut-turut datang lagi di 1963-1966.

Ada dua skadron yang mengoperasikannya yakni 41st Air Squadron dan 42nd Air Squadron yang bernaung di Iswahjudi Air Force Base, Madiun, Jawa Timur.

Ketika datang ke Indonesia, ia langsung dilibatkan dalam persiapan operasi Jayawijaya.

Pada Agustus 1962, setiap kru darat dan awak pesawat dilarang meninggalkan pangkalan karena misi pemboman ke Irian Barat segera dilakukan.

Serangan ke Biak

Tak salah Indonesia membeli Tu-16 kala itu.

Menlu Uni Soviet Anastas Mikoyan didesak agar menjual pesawat tersebut ke Indonesia meski tengah dalam tahap pengembangan.

Karena penjualan ini Moskow mendapat pesanan cukup banyak dari negara lain.

"Karena kita menawarkan Tu-16 kepada Indonesia, kita berkewajiban untuk menyediakan jenis pesawat yang sama kepada negara sahabat lainnya," katanya dikutip dari majalah Angkasa No.12 September 1999 Tahun IX.


Seperti dijelaskan di awal keterlibatan Tu-16 dalam persiapan operasi Jayawijaya cukup tinggi.

Awak dan kru darat pada bulan Agustus 1962 dilarang meninggalkan pangkalan terutama bagi flight Tu-16 yang standby di lanud Morotai.

Misi utama mereka ialah menyerang Biak, garnisun terkuat Belanda di Irian Barat.

Hal ini terjadi bila negosiasi damai Indonesia-Belanda di New York kolaps.

"Sesekali kami menerbangkan Tu-16 hanya untuk menghangatkan mesin. Tetapi kami tidak pernah mengebom atau melakukan kontak dengan pesawat Belanda," jelas salah satu pilot Tu-16 yang standby di Morotai, Kolonel Sidjijantono dikutip dari majalah Angkasa.

Akhirnya perjanjian New York diteken pada 15 Agustus 1962, Belanda bersedia menyerahkan Irian Barat ke Indonesia melalui PBB.

Semua misi dibatalkan, segala unsur penyerang dalam operasi Jayawijaya ditarik mundur.

Hr.Ms.Karel Doorman

Selain Biak, target favorit Badger ialah kapal induk Koninklijke Marine Hr.Ms. Karel Doorman.

Pesan Amstredam jelas, mengirim kapal induk untuk memperkuat pertahanan di Irian Barat.

Doorman membawa jet tempur Hawker Hunter yang mempunyai kemampuan menyerang target di laut dan udara.

Keberadaannya penting bagi strategi serangan balik Belanda bila operasi Jayawijaya dijalankan.

Pendaratan akbar amfibi Marinir Indonesia di Irian Barat terancam dengan keberadaan Hawker Hunter.

Maka kapal induk tersebut harus dimusnahkan.

"Pada saat itu, pilot Tu-16 memiliki target favorit tertentu, yaitu kapal induk Belanda Karel Doorman," jelas majalah Angkasa.

Namun membom Biak dan menenggelamkan Doorman bisa jadi misi bunuh diri.

Keduanya dijaga ketat, secepat apa pun Tu-16 terbang, ia tetap bisa ditembak.

Apalagi Tu-16 terbang ke sana tanpa pengawalan MiG-17 dan MiG-21.

Kedua jet tempur tersebut ditugaskan menyerang sasaran lain dan yang mengawalnya P-51 Mustang yang kalah segalanya bila bertemu Hawker Hunter.

Adu Cepat Lawan Jet Tempur Inggris

Usai masalah Irian Barat kelar, Tu-16 dikerahkan ke palagan Dwikora.

Misi kali ini cukup menantang karena Indonesia menghadapi Persemakmuran Inggris yang siap berperang.

Misi mereka menyusup ke ruang udara Kuala Lumpur melalui Selat Malaka.

Pada 1964 misi tersebut dilaksanakan sasaran pertama Kuala Lumpur lalu belok ke Butterworth.

Namun dua jet tempur Gloster Javelin RAF Inggris terbang mengejar Tu-16 AURI.

Gloster Javelin (foto : RAF)

RAF memaksa agar bomber itu mendarat di lanud Butterworth atau Singapura sebagai tanda penyerahan diri.

Tentu saja pilot Tu-16 yakni Marsekal Madya Syah Alam Damanik tak mau mengikuti arahan RAF, bahkan memerintahkan anak buahnya menembak bila Javelin menyerang duluan.

"Begitu kalian melihat tembakan diarahkan kepada kami, kalian balas menembak," jelas Damanik dikutip dari majalah Angkasa.

Sejurus kemudian Damanik langsung menaikkan ketinggian pesawat yang dipilotinya.

Pesawat melesat cepat masuk bersembunyi dibalik awan, pilot Javelin tergopoh-gopoh mengikutinya.

Lolos! lawan tak mampu mengejar karena begitu gesitnya Tu-16 meski ia pesawat pembom bertubuh besar namun bisa melaju hampir mencapai 2 Mach.

Pensiun Dini

Dinas militer pembom ini cukup singkat, pada 1970 ia sudah digrounded karena arah politik dalam negeri Indonesia yang berubah dari Timur ke Barat.

Nahasnya jika Indonesia ingin mendapatkan F-86 Sabre dan T-33 dari AS maka harus menyingkirkan semua Tu-16.

Walhasil hal itu dipenuhi lalu Indonesia mencoba menjualnya ke Mesir tapi gagal.

Yang jadi pertanyaan hanya beberapa gelintir saja sisa Tu-16 yang dijadikan monumen, sebagian besar entah kemana.

Sampai detik ini Indonesia belum mendapatkan pengganti untuk mengaktifkan kembali skadron pembom strategis jarak jauh.

Tu-16 AURI (foto : TNI AU, restorasi berwarna oleh Gemini AI)

Sebab tak mudah membeli pesawat pembom di masa kini.

Lagian tak banyak negara yang menjual pesawat pembom seperti Tu-16, Rusia punya Tu-22M3 namun sudah kepalang uzur.

AS punya trio bomber B-52, B-2 dan B-1B Lancer yang tak mungkin dijual ke negara lain.

Sebetulnya Indonesia bisa memilih membeli F-15 Eagle II, meski ia Heavy Fighter tapi muatan bomnya melebihi Tu-16 meski daya jelajahnya kurang jauh.

Xian H-6

Mungkin satu-satunya negara yang bisa diajak negosiasi pembelian pesawat bomber ialah China.

China mempunyai hampir 231 unit pesawat pembom Xian H-6 berbagai jenis.

Uniknya H-6 dibuat didasarkan rancang bangun dari Tu-16.

Dikutip dari Air Force Technology pada 24 Desember 2025, H-6 mampu dijejali dengan berbagai persenjataan.

Misalnya rudal jelajah anti kapal YJ-12 dan paling berbahaya adalah rudal balistik nuklir JL-1.

Kemudian di masa depan H-6 diproyeksikan membawa rudal hipersonik varian Dong Feng (DF).

Dalam laporan National Security Journal pada 24 Oktober 2025 berjudul 'China Could Fire Mach 6 Hypersonic Missiles from Bombers to Sink Navy Aircraft Carriers' menjelaskan ada rudal hipersonik baru yang tengah diuji coba di H-6.

Ia adalah YJ-21, jarak tembaknya mencapai 800 mil alias 1287 km!

"Varian yang diluncurkan dari udara ini, dengan jangkauan yang dilaporkan mencapai 800 mil, menimbulkan ancaman signifikan, mampu menyerang Taiwan atau kapal induk AS dari jarak aman," jelasnya.

Sebelumnya laporan dari National Interest pada 15 Juli 2024 yang mengutip Global Times menyebut kemampuan H-6 varian J dan M sudah ditingkatkan.

Peningkatannya signifikan seperti daya muat sehingga mampu membawa empat rudal balistik atau hipersonik.

"Karena rudal tersebut tampak lebih besar dan lebih berat daripada jenis amunisi lain yang dibawa oleh H-6K, para pengamat menduga bahwa pesawat pembom itu hanya dapat membawa dua rudal, bukan empat, tetapi foto resmi terbaru membantah dugaan tersebut," jelasnya.

Rupanya pembuatan dan perkembangan H-6 selalu dalam pantauan CIA.

Misalnya pada 13 Agustus 1971, latihan pembomannya direkam oleh satelit mata-mata AS.

Menurut mereka, pesawat ini punya peran ganda sebagai pembom konvensional dan nuklir.

Daya jelajahnya yang mencapai 6.000 km patut diwaspadai oleh siapa pun itu.

"Sementara tahun berikutnya, CIA memperkirakan bahwa China memiliki 32 pesawat yang beroperasi dengan tambahan 19 pesawat yang sedang menunggu penyelesaian. H-6 juga digunakan untuk menjatuhkan sembilan perangkat nuklir di lokasi uji coba Lop Nur," beber National Interest.

Tak ayal bagi siapa pun yang mengoperasikan pesawat ini bakal jadi sorotan pihak Barat.

Apalagi jika dipersenjatai seperti rudal jelajah serang darat atau anti kapal membuatnya lebih berbahaya.

Pesawat pembom seperti ini sebetulnya perlu dan tak perlu bagi Indonesia.

Jika dibeli pun harus memikirkan biaya operasional serta ketersediaan suku cadang yang jumlahnya tak terlalu banyak.

Selain itu kondisi geopolitik kawasan membuat kerentanan bagi Indonesia bila membelinya.

Seperti diketahui klaim Nine Dash Line pemerintah China mencaplok sebagian ZEE Natuna Utara, bila konflik berubah jadi bentrokan bersenjata maka nasib H-6 tak jauh-jauh dari Tu-16, rontok karena embargo militer.

Sementara itu harga satu unit H-6 versi terbaru mencapai Rp 900 miliar.

Bahkan China sudah menjual varian ekspor dengan kode Xian B-6D dan khusus digunakan sebagai platform pembom maritim.*




























Seto Ajinugroho
Seto Ajinugroho adalah seorang Wartawan yang berkecimpung di dunia Jurnalisme terutama menggeluti tentang informasi perkembangan teknologi pertahanan nasional dan internasional

Posting Komentar untuk "Xian H-6, Solusi Murah Praktis Aktifkan Skadron Pembom Strategis Jarak Jauh Indonesia"