Pembentukan Lima Batalyon Serbu Pasukan Reaksi Cepat Indonesia Menyita Perhatian Negara Lain

TIMEMOMENTS.COM - Militer Indonesia terus mengembangkan kemampuan tempurnya.

Pembangunan postur pertahanan selaras dengan prediksi dinamisnya geopolitik kawasan.

Yang jadi masalah terkadang keadaan geopolitik memanas dalam waktu singkat.

Sehingga urgensi Indonesia memperkuat angkatan bersenjatanya harus dipercepat.

Baca Juga : Indonesia Bentuk Brigade Operasi Khusus Guna Hadapi Ancaman Perang

Akselerasi ini dituangkan dalam rencana Optimum Essential Force (OEF) menggantikan Minimum Essential Force (MEF).

Percepatan ini tak dipungkiri menyita perhatian negara lain karena pembelian jor-joran alutsista yang dilakukan Indonesia.

Geopolitik Indo Pasifik


Pada 1946 Perdana Menteri (PM) India Jawaharlal Nehru memprediksi di masa depan Indo Pasifik menjadi hot spot baru dunia menggantikan Atlantik.

Pandangan Nehru terbukti dimana secara konstan ia mengarahkan negaranya berekspansi ke Indo Pasifik di masa depan.

Tarik jauh kebelakang seorang ahli geopolitik Jerman Karl Haushofer pada 1920 membayangkan kawasan ini terbebas dari dominasi kolonial dimana ada Asia Tenggara, Jepang, China dan India bebas dari pengaruh negara Barat.

Sehingga kawasan ini bergeliat lebih dinamis, maju dan kaya sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan sendiri-sendiri oleh negara yang berhak mengeksploitasinya sesuai wilayah kedaulatannya.

Tetapi pengaruh dari Barat bahkan negara besar Asia Timur tetap ada di Indo Pasifik.

Salah satunya AS, mereka menerbitkan dokumen berjudul 'Free and Open Indo-Pacific' tentunya hasil akhir adalah terjaminnya kepentingan nasional Washington di kawasan ini.

AS kerahkan armada ke Indo Pasifik menjaga kepentingan nasionalnya (foto : US Navy)

"Mengikuti jejak Amerika Serikat, banyak sekutu Amerika telah menerbitkan dokumen-dokumen strategis yang menguraikan kebijakan mereka terhadap kawasan Indo-Pasifik," jelas Britannica pada 20 November 2025.

Indo Pasifik dilihat sebagai 'lahan basah' oleh negara-negara besar, dari sini ditarik kesimpulan sederhana bahwasanya Indonesia yang menguasai selat-selat penting harus berbicara lebih banyak.

Jakarta mesti menjadi penentu iklim Indo Pasifik, mengendalikan jalur perdagangan untuk kepentingan nasionalnya.

Di sinilah letak urgensi penguatan angkatan bersenjata, tak ada yang mau mendengarkan bila militer Indonesia lembek di mata negara lain.

Pembentukan Batalyon Baru

Alutsista yang datang dibeli Indonesia datang berangsur, terus menerus.

Untuk itu diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) mengoperasikan alutsista tersebut.

Selain itu penambahan satuan-satuan baru untuk menjamin lagi keberlangsungan NKRI.

Pembentukan satuan-satuan baru ini menyita perhatian negara lain.

Termasuk pembentukan batalyon serbu pasukan reaksi cepat.


"Tentara Nasional Indonesia mengumumkan rencana reorganisasi berskala besar: pembentukan enam komando daerah baru di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua; 14 komando daerah angkatan laut; dan tiga komando daerah angkatan udara. Bersamaan dengan itu, dibentuk pula satu komando tempur udara, enam satuan pasukan khusus angkatan darat, 20 brigade pengembangan teritorial, 100 batalyon pengembangan teritorial, lima batalyon infanteri laut, dan lima batalyon serbu pasukan reaksi cepat AU," jelas 163.com dalam artikelnya berjudul 'Indonesia's military buildup, including the purchase of fighter jets and aircraft carriers, has attracted the attention of neighboring countries' pada 15 Agustus 2025.

Tak masalah menyita perhatian negara lain karena modernisasi angkatan bersenjata Indonesia boleh dibilang telat.

Maka OEF harus benar-benar mencapai 100 persen karena nantinya ia jaminan kepentingan nasional Indonesia berjalan semestinya.*










Seto Ajinugroho
Seto Ajinugroho adalah seorang Wartawan yang berkecimpung di dunia Jurnalisme terutama menggeluti tentang informasi perkembangan teknologi pertahanan nasional dan internasional

Posting Komentar untuk "Pembentukan Lima Batalyon Serbu Pasukan Reaksi Cepat Indonesia Menyita Perhatian Negara Lain"